kata lelah untuk mengerti tidak cukup untuk menggambarkan yang aku rasakan detik ini juga.
proses yang bertubi-tubi Tuhan sediakan untuk membentuk karakterku. ini menyakitkan dan melelahkan, bukan hiperbola, bisa saja orang yang tidak mampu menghadapinya akan memilih untuk mengakhiri ini semua dengan cara yang mereka anggap baik,
bertahan bukan satu-satunya cara yang memang aku kehendaki.entah sampai kapan. karena tidak ada seorangpun yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.
detik ini, aku dihadapkan dengan seseorang yang mengakibatkan aku skeptis, lagi-lagi skeptis. benar kata salah satu dosenku yang pernah mengatakan bahwa "mungkin kamu hopeless." tangisanku kurang bisa menjelaskan perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan.
aku lelah di tuntut, apa yang aku lakukan selalu salah.
detik ini pembahasan mengenai "nahkoda kapal" dimana pemimpin yang memiliki hak sepenuhnya, ya, sepenuhnya.
pembahasan mengenai jerih payah, lalu apa aku juga tidak merasakannya? munafik sekali apabila kita hanya menilai diri seperti itu.
sudahlah ayah, akhiri perdebatan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar